Skip to content

Founder’s Notes · Issue #1 · Lessons

Babak Baru Preneurs dan Pertamuda

Ares · August 2026

Udara Tokyo menyentuh -1°C. Bagi kita yang hidup di negara tropis, dingin ini bukan sekadar angka, ia menusuk kulit dan tulang, seperti masuk freezer dan dipaksa bertahan hidup di sana. Dari dinginnya winter di Tokyo, terbesit pertanyaan: “Seperti ini kah rasanya startup winter?”

Startup winter — fase ketika funding membeku dan produktivitas menurun — bukan hal baru. Data Crunchbase menunjukkan funding global turun 38% di 2023 dibanding tahun sebelumnya, dari $462 miliar ke $285 miliar. Di Asia Tenggara, unicorn baru anjlok dari 23 di 2021 menjadi hanya 8 di 2022, dan terus menurun di tahun-tahun berikutnya.

Tapi pertanyaannya bukan soal makroekonomi semata. Dari perjalanan mewakili alumni Pertamuda, memperkenalkan Preneurs ke komunitas startup pelajar dari Jepang, Singapura, India, Filipina, dan Korea Selatan, satu pertanyaan terus menggema: bagaimana Jepang bertahan hidup bahkan dalam winter? Apakah stagnasi yang kita alami benar-benar disebabkan winter, atau justru ketidakmampuan kita beradaptasi?

Kami membawa misi berat tapi penting: tidak hanya membawa oleh-oleh insight untuk kita para pengusaha muda agar tetap bertahan, tapi juga memperkenalkan Pertamuda dan Preneurs ke dunia yang saat ini dimulai keluarga SEA dan Asia Timur. Yes, you read it right. Tidak akan lama lagi, pertarungan Pertamuda tidak hanya ke sesama anak Indonesia, tapi juga dunia. Artinya, harus ada pola pikir dan mentalitas yang berubah secara signifikan kalau kita ingin maju.

Berikut adalah catatan perjalanan kami yang semoga bermanfaat untuk komunitas Preneurs ke depannya.

Bab 01

Perubahan tidak bisa terjadi
tanpa kejujuran mengakui masalah

Di antara banyaknya hal yang bisa kita kagumi dari Jepang, ada satu hal yang paling menyangkut di saya: keberanian mengakui masalah. Satu narasi yang sangat konsisten diceritakan, baik dari kalangan mahasiswa, profesor, maupun pekerja, Jepang memiliki masalah “The Lost 30 Years” — periode stagnasi ekonomi yang dimulai sejak awal 1990-an setelah pecahnya bubble economy dan properti yang menyebabkan harga aset anjlok, kredit macet, deflasi berkepanjangan, dan pertumbuhan ekonomi hampir nol selama tiga dekade.

Yang membuat “The Lost 30 Years” begitu signifikan bukan hanya dampak ekonominya, tetapi juga transformasi sosial: menurunnya kepercayaan diri nasional, perubahan struktur ketenagakerjaan, dan munculnya generasi yang tumbuh tanpa mengalami pertumbuhan ekonomi tinggi seperti generasi sebelumnya. Periode ini memaksa Jepang melakukan introspeksi mendalam tentang masa depan ekonominya. Salah satu respons paling menonjol adalah dorongan kuat untuk membangun ekosistem startup dan menciptakan unicorn — sesuatu yang selama ini didominasi oleh Amerika Serikat dan China.

Pemerintah Jepang meluncurkan berbagai inisiatif seperti “Startup Development Five-Year Plan” yang menargetkan 100.000 startup baru dan 100 unicorn pada 2027. Mereka menyadari bahwa untuk keluar dari stagnasi, Jepang perlu mengubah budaya korporat yang rigid dan risk-averse menjadi lebih entrepreneurial dan inovatif. Ini bukan sekadar soal ekonomi, tapi soal mengembalikan kepercayaan diri nasional dan menciptakan generasi baru yang tidak hanya mewarisi stagnasi, tapi membangun pertumbuhan.

Sekarang kita kembalikan ke konteks Indonesia. Tentu, ketika mengakui, menyepakati, dan merancang solusi bersama, perubahan tidak ujug-ujug langsung muncul. Tapi jika kita tidak segera menyadari apa yang menjadi kekurangan atau bahkan denial terhadap realita, hampir bisa dipastikan tidak akan ada perubahan baik yang lahir. Perubahan sejati selalu dimulai dari kejujuran, bukan membesar-besarkan.

PR: Sekarang yang bisa kita mulai renungi, dalam skala Preneurs saja dulu, apa yang menjadi masalah kita? Apakah minimnya security pasca lulus? Pola pikir prize hunting? Atau kurangnya role model yang realistis?

Yang saya percaya: menemukan dan mengakui apa masalah kita secara kolektif adalah 50% dari pekerjaan dan merupakan arah terbaik yang bisa kita ambil kalau ingin memulai lembaran baru generasi founder berikutnya.

Bab 02

Jadikan ketidaknyamanan sebagai sinyal
untuk bergerak keluar kandang

Perubahan dunia sudah di tahap melebihi gila. Kalau kita mengikuti berita, di skala nasional maupun global, tidak jarang membuat kita merasa powerless. Tapi satu pertanyaan yang setidaknya selalu terbesit, “Terus kita bisa apa?”

Jawaban yang bisa saya pegang dengan puas saat ini adalah satu: melawan kenyamanan. Di suatu diskursus dengan seorang perwakilan Departemen Engineering dari NUS, dosen komunikasi internasional dari UK yang mengajar di suatu universitas di pegunungan Jepang, orang Jepang yang menjadi guru Bahasa Inggris, dan seorang AI Consultant dari UK, kami membahas apa yang menjadi penghalang terbesar suatu negara berhenti berinovasi? Jawabannya adalah kenyamanan. Dengan berbagai kemudahan dan kestabilan yang ada serta trauma masa lalu, membuat warga Jepang yang homogen menjadi sangat risk-averse. Padahal risiko adalah nadi dari inovasi dan kemajuan.

Ketidaknyamanan sebenarnya menjadi sinyal untuk kita bergerak karena di balik itu ada kesempatan. Salah satu ketidaknyamanan yang kita bisa kejar adalah gagasan kolaborasi sesama bangsa Asia Tenggara. Di buku What It Takes dari Gita Wirjawan, dibahas secara komprehensif kenapa SEA harus menemukan cara untuk proaktif berkomunikasi satu sama lain agar menemukan kohesivitas ekonomi menghadapi gilanya perang dagang US dan China. Tentu, hadir ketidaknyamanan bagi kita yang sudah terbiasa jago kandang untuk memperluas cakupan.

Semaju-majunya Singapura, mereka memiliki ketakutan kalau mereka sudah terlalu nyaman. Terbukti dengan banyaknya produk dari China yang masuk dan mendominasi di sana. Mereka takut akan menjadi Jepang berikutnya yang sudah terlalu nyaman sehingga lupa untuk berinovasi. Tanpa bermaksud terdengar elitis, tapi kita perlu melihat kelimpahan ketidaknyamanan yang Indonesia punya saat ini sebagai sesuatu yang perlu disyukuri. Karena dari situ terpupuk sinyal-sinyal untuk bergerak.

”If you want to feel discomfort, come to Indonesia. We are the biggest export in discomfort in South East Asia.”

Sayangnya, Indonesia dengan berbagai macam ketidaknyamanannya masih belum menunjukkan keinginan untuk melawan. Kita belum berada di tahap melawan kenyamanan karena terlalu merasa aman dengan bencana.

Untuk itu, coba renungkan apa hal-hal yang membuat kita tidak nyaman tapi masih dalam ruang kendali kita. Seperti, meningkatkan kemampuan bahasa Inggris dan asing. Kita harus keluar dari “Oh, gue ngerti orang ngomong apa. Tapi gue ga bisa ngomongnya.” ke “Gue punya argumentasi dan gue bisa menyampaikannya dengan bahasa lawan bicara sesuai konteks.” This is not even the bare minimum anymore.

Be the best in your area: bandingkan diri kita jangan dengan teman sekitar, tapi dengan seseorang di belahan dunia lain. Kalau saya seorang software engineer di Depok atau Jogja, bayangkan apa yang dilakukan mahasiswa dengan role serupa di Stanford atau Tsinghua. Apa habit mereka? Bagaimana cara mereka berpikir? Seberapa kompleks permasalahan yang mereka coba selesaikan?

Perluas circle. Menjadi introvert bukan alasan kita menutup diri. Berteman dengan orang yang tidak dari kampus kita saja dan di bidang kita saja. Bahkan kuatkan pertemanan kita sebagai SEAblings dan lebih dari itu. Salah satu pembahasan kami di suatu focus group menyepakati bahwa comfort kills. Warga Jepang tidak merasa ada urgensi untuk belajar bahasa Inggris, padahal data menunjukkan bahwa startup yang menjadi unicorn di US cenderung memiliki lebih banyak imigran. Artinya, diversitas menjadi kunci terbangunnya gagasan yang progresif.

Jangan merasa aman dengan kenyamanan, tapi jangan juga hanyut dari ketidaknyamanan. Gunakan arus ketidaknyamanan kita yang berlimpah ini untuk bergerak keluar kandang.

Bab 03

Build something that
outlasts our lifetime

Kita perlu membuang narasi kalau tujuan akhir dari suatu perusahaan adalah IPO atau diakuisisi dengan nilai tinggi sehingga kita bisa menjadi kaya raya. Wealth hanyalah resource yang dibutuhkan untuk menopang tujuan, tapi dia bukan tujuan akhir itu sendiri. Ibarat mobil, tujuannya bukan untuk punya bensin sebanyak-banyaknya, tapi bagaimana kendaraan itu mengantarkan kita ke tujuan-tujuan dengan selamat.

Kalau uang adalah tujuan akhir, VOC berarti perusahaan paling berhasil karena memiliki valuasi puncak 78 juta guilder — sering diklaim setara ~$7,9 triliun dalam dolar modern — melebihi Apple ($3,76 triliun). Tapi pada akhirnya VOC hancur dan menghancurkan — dengan kita sebagai salah satu korbannya.

”The true goal of a company is not to make money, but to advance a higher purpose, cause, or belief.” — Simon Sinek

Lalu apa saja prinsip membangun perusahaan yang bisa hidup melebihi kehidupan kita? Setidaknya ada tiga yang saya pegang dan pelajari dari pengalaman maupun perjalanan ke Jepang ini.

Pertama — Adaptable business model

Di dunia startup kita biasa menerima doktrin: fall in love with the problems, not the solution. Sampai saat ini prinsip itu masih relevan, tapi kurang lengkap. Ketika kita baru memulai, kita perlu sadar dengan realita yang kita miliki. Kebanyakan dari kita bukan berasal dari keluarga konglomerat yang punya safety net. Sedangkan membangun suatu produk yang bisa dibeli oleh mass market butuh infrastruktur yang kuat. Dan infrastruktur yang kuat butuh investasi yang besar.

Faktanya, Indonesia adalah negara dengan populasi besar tapi kemampuan beli yang rendah. Setidaknya pengalaman 10 tahun terakhir menunjukkan kalau B2C tidak bisa bertahan di market Indonesia. Sehingga kita perlu beradaptasi sambil melihat realita yang ada: di mana kah letak kemampuan beli itu? Prediksi saya: B2B, B2G, dan top 1% wealth. Lepaskan mindset bahwa kita perlu tergantung dengan uang investor untuk memulai.

Kedua — Incremental growth is the most sustainable way for success

Di keluarga Pertamuda, Chickin menjadi salah satu role model paling berhasil yang kita banggakan. Tapi permasalahannya saat ini, jarak antara kita yang baru memulai dengan Chickin yang sudah mengalami pendanaan ratusan milyar terlalu jauh. Sehingga tidak jarang kita merasa kalau belum mencapai titik itu, kita langsung gagal.

PR kita bersama sebelum kita bilang kalau kita akan mendominasi suatu market, coba jawab ini secara pragmatis: gimana setelah lulus saya bisa mengerjakan ini full time tanpa orangtua komplain?

Ketiga — Marketing generates revenue, but story builds legacy

Bagi saya, aset terbesar Jepang adalah cerita. Produk yang berfungsi akan membentuk suatu komoditas, tapi produk yang memiliki cerita akan membentuk suatu identitas. Dan identitas adalah sesuatu yang membekas sampai kapanpun.

Sebagai generasi yang tumbuh dengan Doraemon, Tsubasa, Dragon Ball, Naruto, Ghibli Studio, One Piece, dan segala macam bentuk lainnya, kita tahu seberapa berartinya karakter tersebut. Tidak hanya sebagai hiburan, tapi juga acuan. Dan ketika sesuatu sudah menjadi identitas, mau barang se-aneh apapun pasti dibeli.

Kartu dengan gambar dan statistik bisa diproduksi siapa saja, tapi kenapa hanya Pokemon yang bisa memiliki kartu koleksi dengan nilai jutaan? Robot yang disusun bisa dibuat siapa saja, tapi kenapa Gundam yang dibela-belain untuk dibeli sampai mengantri? Tangga adalah alat transportasi yang menjadi musuh sebagian besar orang, tapi kenapa tangga Kimi No Nawa bisa menjadi tujuan wisata? Padahal cuma tangga — di Manggarai juga ada.

Jawabannya adalah karena cerita. Sisipkan cerita di setiap produk yang kita hadirkan. Siapa yang bisa menghadirkan identitas, tidak hanya membangun bisnis, tapi membangun peradaban.

Tulisan ini akan menjadi permulaan dari perjalanan panjang kita dengan Preneurs. Kalau kamu ingin jadi saksi dan bahkan pemeran di cerita ini, sebarkan tulisan ini dan follow akun @preneursindonesia di Instagram.

Cheers!

Ares — President of Preneurs Indonesia

Tentang fact-check. Badge di sepanjang artikel — Akurat, Dikoreksi, Diperdebatkan — bisa diklik untuk melihat detail verifikasinya. Data yang kurang tepat dari esai asli sudah dikoreksi langsung dalam teks.

Fact check — semua sumber

  1. DikoreksiFunding global turun 38% di 2023Data Crunchbase: turun 38% YoY secara keseluruhan 2023 ($462B → $285B). Angka awal 53% tidak ditemukan di laporan resmi.
  2. DikoreksiUnicorn baru SEA: 23 di 2021 → 8 di 2022DealStreetAsia. Angka awal 10 → 2 tidak sesuai sumber.
  3. AkuratThe Lost 30 YearsIstilah yang sangat dikenal untuk stagnasi ekonomi Jepang pasca-1990.
  4. AkuratStartup Development Five-Year PlanDikonfirmasi Japan Times, TechCrunch, dan METI. Diluncurkan November 2022, menargetkan 100.000 startup baru dan 100 unicorn pada 2027.
  5. AkuratUnicorn AS dan founder imigranRiset NFAP: lebih dari 50% unicorn AS memiliki setidaknya satu founder imigran.
  6. DiperdebatkanValuasi puncak VOC ~$7,9 triliunValuasi $7,9–8,2T berasal dari konversi inflasi yang dikritik sejarawan. Estimasi realistis: $1–8 miliar.
  7. AkuratMarket cap Apple $3,76 triliunPer Maret 2026, market cap Apple sekitar $3,86T. Angka 3,76T mendekati.
  8. DiperdebatkanKutipan Simon SinekGagasan konsisten dengan tema Simon Sinek, tapi kutipan verbatim tidak ditemukan.

Up next